Lewati ke konten utama

Media & PR

Native Advertising: Pengertian, Jenis, Contoh, dan Aturan Labelnya

Native advertising adalah iklan berbayar yang menyatu dengan format konten di sekitarnya. Pelajari jenis, beda dengan advertorial, dan aturan labelnya.

Tim Redaksi LiputinTerbit 11 menit baca

Ilustrasi garis linimasa berisi tiga kartu konten, satu kartu bertanda oranye sebagai konten bersponsor

Native advertising adalah iklan berbayar yang tampil dalam gaya dan format yang sama dengan konten di sekitarnya. Di situs berita, wujudnya artikel. Di media sosial, wujudnya unggahan di linimasa. Di mesin pencari, wujudnya hasil pencarian yang diberi tanda iklan. Istilah native merujuk pada kesesuaian bentuk iklan itu dengan platform tempatnya muncul (Wikipedia).

Native advertising juga sering disebut sponsored content, partner content, atau iklan native. Bentuknya bisa berupa tulisan, gambar, video, atau artikel editorial. Satu hal tidak berubah: ia tetap iklan, dan pembaca berhak tahu bahwa yang mereka baca dibayar.

Panduan ini membahas pengertian native advertising, jenis-jenisnya, bedanya dengan advertorial dan content marketing, aturan label di Indonesia, kaitannya dengan SEO, serta cara menjalankan kampanye native advertising yang rapi.

Native advertising adalah apa?

Iklan konvensional di internet, seperti banner, tampil terpisah dari konten. Pembaca langsung tahu itu iklan karena bentuknya berbeda. Native advertising mengambil jalan lain: iklan dibuat dalam bentuk yang sama dengan konten yang memang sedang dinikmati pembaca, lalu diberi label.

Diagram tiga ciri native advertising: dibayar pengiklan, mengikuti format konten di sekitarnya, dan wajib diberi label yang jelas
Native advertising tetap iklan. Yang membuatnya berbeda hanyalah bentuknya yang menyatu dengan konten di sekitarnya.

Ada tiga ciri yang selalu ada pada native advertising yang sehat:

  • Dibayar pengiklan. Ruangnya dibeli, bukan didapat karena layak diberitakan. Inilah yang membedakannya dari earned media.
  • Mengikuti format platform. Artikel di situs berita, video di platform video, unggahan di linimasa.
  • Diberi label yang jelas. Kata seperti "Sponsored", "Iklan", "Advertorial", atau "Dipersembahkan oleh" yang terlihat sebelum pembaca mulai membaca.

Wikipedia mencatat kritik yang perlu diingat setiap pengiklan: karena menyatu dengan konten, native advertising bisa mengurangi kemampuan pembaca mengenali iklan, apalagi bila labelnya samar seperti "From around the web". Karena itu kualitas label bukan detail kecil, melainkan inti etika format ini.

Jenis-jenis native advertising

Jenis native advertising biasanya dibedakan dari tempat munculnya. Wikipedia merangkum beberapa kategori yang umum dipakai industri.

Diagram empat jenis native advertising: unit di dalam linimasa, iklan di hasil pencarian, widget rekomendasi, dan konten bersponsor
Jenis native advertising dibedakan dari tempat munculnya. Masing-masing punya cara pelabelan yang lazim.
Jenis Tempat muncul Contoh bentuk Label yang lazim
Unit di dalam linimasa (in-feed) Di antara artikel atau unggahan biasa Artikel bersponsor di daftar berita, unggahan bersponsor di media sosial "Sponsored", "Promoted", "Iklan"
Iklan di hasil pencarian Di atas atau di bawah hasil organik Iklan teks yang mirip hasil pencarian "Iklan" atau "Bersponsor"
Widget rekomendasi Di bawah atau samping artikel Kotak "Anda mungkin juga suka" berisi tautan berbayar Nama penyedia widget, "Sponsored"
Konten bersponsor Di rubrik media atau kanal kreator Artikel, video, atau seri yang dibuat bersama merek "Advertorial", "Konten bersponsor", "Dipersembahkan oleh [merek]"

Di Indonesia, bentuk yang paling akrab bagi pemilik usaha adalah artikel bersponsor di media online dan unggahan berbayar di akun media sosial. Untuk kreator dan akun media sosial, pembahasannya ada di artikel homeless media dan KOL.

Native advertising, advertorial, dan content marketing

Tiga istilah ini sering dipakai bergantian, padahal cakupannya berbeda.

Aspek Native advertising Advertorial Content marketing
Cakupan Payung untuk semua iklan yang mengikuti format platform Salah satu bentuk native advertising, berupa artikel di media Konten di saluran milik sendiri
Siapa pemilik ruang Media atau platform Media Merek sendiri (blog, newsletter, akun resmi)
Dibayar untuk ruangnya? Ya Ya Tidak, biayanya produksi
Wajib label iklan? Ya Ya Tidak, karena jelas milik merek
Contoh Unggahan bersponsor, widget rekomendasi, artikel bersponsor Artikel produk berlabel "Advertorial" di situs berita Panduan di blog perusahaan

Jadi setiap advertorial adalah native advertising, tetapi tidak setiap native advertising adalah advertorial. Content marketing berbeda lagi karena ruangnya milik merek sendiri. Ketiganya bisa saling melengkapi: artikel bersponsor di media membawa pembaca baru ke panduan di blog merek, dan panduan itu membangun kepercayaan sebelum mereka membeli.

Catatan

Aturan label native advertising di Indonesia

Di Indonesia, kewajiban label untuk konten berbayar di media online diatur oleh Pedoman Pemberitaan Media Siber dari Dewan Pers. Pedoman itu mewajibkan media siber membedakan dengan tegas antara produk berita dan iklan, dan setiap isi berbayar wajib mencantumkan keterangan seperti "advertorial", "iklan", "ads", "sponsored", atau kata lain yang menjelaskan bahwa isi tersebut adalah iklan.

Selain itu, Etika Pariwara Indonesia dari Dewan Periklanan Indonesia menjadi rujukan etika untuk pelaku periklanan. Di Amerika Serikat, FTC menerbitkan panduan native advertising untuk bisnis yang intinya sama: konten berbayar harus bisa dikenali sebagai iklan oleh konsumen.

Diagram contoh penempatan label konten bersponsor: di dekat judul, di awal tulisan, dan atribut tautan sponsored
Label yang baik terlihat sebelum pembaca mulai membaca, bukan tersembunyi di bagian bawah.

Praktik label yang baik:

  1. Letakkan label di dekat judul atau di awal unggahan, bukan hanya di bagian paling bawah.
  2. Pakai kata yang dipahami pembaca awam. "Iklan" atau "Konten bersponsor" lebih jelas daripada istilah samar.
  3. Sebut siapa sponsornya bila memungkinkan, misalnya "Dipersembahkan oleh [merek]".
  4. Samakan label di semua tampilan. Label harus ikut muncul di kartu artikel, halaman artikel, dan bagian berbagi.
  5. Tandai tautan berbayar. Tautan ke situs pengiklan diberi atribut rel="sponsored" atau rel nofollow, seperti dijelaskan di bagian berikut.

Native advertising dan SEO

Banyak pengiklan membeli artikel bersponsor dengan harapan mendapat backlink. Di sinilah ekspektasi perlu diluruskan.

Kebijakan spam Google secara eksplisit menyebut advertorial atau native advertising yang dibayar dan memuat tautan yang meneruskan nilai peringkat sebagai contoh link spam. Google meminta tautan berbayar ditandai rel="sponsored", dengan nofollow masih diterima, sesuai panduan atribut tautan.

Artinya, nilai native advertising tidak terletak pada janji peringkat. Nilainya ada pada:

  • Pembaca media itu. Orang yang belum mengenal merekmu membaca ceritamu di tempat yang mereka percaya.
  • Kunjungan dari tautan. Atribut sponsored tidak menghalangi pembaca mengklik tautan.
  • Sinyal reputasi. Penyebutan merek di media yang relevan ikut membentuk brand mention dan brand awareness.

Kalau ada penjual yang menjanjikan artikel bersponsor dengan tautan yang "pasti dofollow" untuk menaikkan peringkat, baca dulu penjelasan di artikel black hat SEO dan PBN. Tautan berbayar tanpa label adalah salah satu penyebab utama situs akhirnya harus melakukan Google disavow.

Perhatian

Cara menjalankan kampanye native advertising

Diagram lima langkah menjalankan kampanye native advertising: tujuan, pilih media, susun naskah, cek label dan tautan, lalu ukur hasil
Kampanye native advertising yang rapi dimulai dari tujuan dan diakhiri dengan pengukuran, bukan sekadar membeli slot.
  1. Tetapkan tujuan. Apakah ingin dikenal audiens baru, mendapat pendaftaran, atau menjual produk tertentu? Tujuan menentukan media, format, dan cara mengukur.
  2. Pilih media yang dibaca audiensmu. Lihat rubrik, topik, dan data pembaca media itu. Data pembaca yang bersumber dan bertanggal lebih berguna daripada angka tanpa keterangan. Cara membaca bahan penawaran media ada di artikel media kit.
  3. Susun naskah yang tetap berguna walau berlabel. Naskah yang hanya memuji produk jarang dibaca sampai habis. Mulai dari masalah pembaca, beri informasi yang berguna, lalu kaitkan dengan produkmu secara jujur.
  4. Cek label dan tautan saat tayang. Pastikan label terlihat, tautan mengarah ke halaman yang benar, dan atributnya sesuai kesepakatan.
  5. Ukur hasil. Pakai tautan berparameter UTM, pantau kunjungan, waktu baca, pendaftaran atau penjualan, serta pencarian nama merek sesudah kampanye.

Bandingkan hasil antar media dan antar naskah. Dari situ kamu tahu media mana yang layak diulang dan jenis cerita apa yang paling sesuai dengan audiensmu.

Beberapa metrik yang bisa dipakai sesuai tujuan kampanye:

Tujuan Metrik utama Cara mencatatnya
Dikenal audiens baru Jumlah pembaca artikel, pencarian nama merek sesudah tayang Laporan dari media, data penelusuran di Search Console
Kunjungan ke situs Sesi dari tautan berparameter UTM, waktu di halaman Alat analitik situs
Pendaftaran atau penjualan Formulir terisi, pesanan, chat masuk dari halaman tujuan Analitik plus catatan penjualan

Jangan menilai kampanye hanya dari satu angka. Artikel yang jumlah kliknya kecil bisa saja mendatangkan pembeli yang paling serius, karena pembacanya sudah memahami produkmu sebelum berkunjung.

Cara menulis naskah native advertising yang dibaca sampai habis

Pembaca yang melihat label "Sponsored" tidak otomatis berhenti membaca. Mereka berhenti kalau tulisannya terasa seperti brosur. Naskah native advertising yang baik mengikuti kaidah tulisan biasa di media itu, lalu menyelipkan produk di tempat yang wajar.

Kerangka yang bisa kamu pakai:

  1. Judul yang menjawab kebutuhan pembaca. Misalnya "Cara Memilih Katering Kantor untuk Rapat Mingguan", bukan "Katering X, Pilihan Terbaik untuk Kantor Anda".
  2. Paragraf pembuka yang menjelaskan masalah. Tunjukkan bahwa kamu paham situasi pembaca sebelum menawarkan apa pun.
  3. Isi yang tetap berguna tanpa produkmu. Beri tips, kriteria memilih, atau data yang bisa dipakai pembaca walaupun mereka belum membeli.
  4. Produk sebagai salah satu jawaban. Jelaskan kapan produkmu cocok dan kapan tidak. Kejujuran ini membuat tulisan lebih dipercaya.
  5. Satu ajakan yang jelas. Satu tautan utama ke halaman yang relevan, bukan lima tautan berbeda.

Gaya bahasanya juga perlu menyesuaikan media. Artikel di media bisnis memakai bahasa yang lebih formal daripada unggahan di akun gaya hidup. Mintalah contoh artikel bersponsor yang pernah tayang di media itu sebagai patokan panjang, nada, dan format.

Satu hal yang sering terlupa adalah gambar. Gunakan foto produk atau tempat yang nyata, bukan gambar karangan, karena pembaca akan mencocokkannya saat berkunjung atau membeli.

Contoh native advertising untuk usaha kecil

Native advertising tidak hanya untuk merek besar. Beberapa pola yang masuk akal untuk usaha kecil dan menengah:

  • Toko perlengkapan bayi menayangkan artikel bersponsor berlabel di situs parenting tentang cara memilih stroller untuk jalan kaki di kota, lalu menyebut produknya sebagai salah satu pilihan dengan kelebihan dan batasannya.
  • Kursus bahasa membayar unggahan bersponsor di akun komunitas pelajar berisi tips persiapan ujian, dengan tautan ke kelas percobaan.
  • Penyedia perangkat lunak kasir menayangkan artikel berlabel di media bisnis tentang cara merapikan pembukuan toko, lengkap dengan langkah yang bisa dilakukan tanpa aplikasi apa pun.

Ketiga contoh itu sama-sama memberi informasi yang berguna, menyebut produk secara jujur, dan diberi label yang jelas. Media dan audiensnya dipilih karena relevan, bukan karena angka metrik semata.

Kesalahan umum dalam native advertising

  • Menyamarkan label. Label kecil berwarna pudar di bagian bawah melanggar semangat aturan dan merusak kepercayaan saat ketahuan.
  • Naskah seperti brosur. Format native memberi ruang bercerita. Kalau isinya hanya daftar keunggulan produk, pembaca berhenti di paragraf kedua.
  • Memilih media karena metrik alat saja. Skor seperti domain rating tidak menunjukkan siapa pembacanya. Pilih media yang dibaca audiensmu.
  • Mengejar tautan, bukan pembaca. Tujuan native advertising adalah dibaca orang yang tepat. Tautan hanyalah jalan menuju situsmu.
  • Tidak mengukur. Tanpa tautan berparameter dan halaman tujuan yang jelas, sulit menilai apakah kampanye layak diulang.
  • Tidak memeriksa tayangan. Artikel yang tayang tanpa label, dengan tautan rusak, atau di rubrik yang salah perlu segera dikoreksi bersama media.

Ringkasan

Native advertising adalah iklan berbayar yang tampil dalam format konten di sekitarnya, misalnya artikel bersponsor di media, unggahan bersponsor di linimasa, iklan di hasil pencarian, atau widget rekomendasi. Advertorial adalah salah satu bentuknya. Di Indonesia, Pedoman Pemberitaan Media Siber mewajibkan isi berbayar diberi label yang jelas, dan Google meminta tautan berbayar ditandai rel="sponsored" atau nofollow. Nilai utamanya ada pada pembaca, eksposur merek, dan kunjungan, bukan pada janji peringkat.

Kalau kamu ingin menayangkan artikel bersponsor berlabel di media dengan data pembaca bersumber, lihat artikel bersponsor di media di Liputin. Untuk menyebarkan kabar ke beberapa media sekaligus, ada layanan jasa press release.

Pertanyaan yang sering diajukan

Native advertising adalah iklan berbayar yang tampil dalam gaya dan format yang sama dengan konten di sekitarnya, misalnya berupa artikel di situs berita, unggahan di linimasa media sosial, atau video. Istilah native merujuk pada kesesuaian bentuk iklan dengan platform tempatnya muncul.

Native advertising adalah payung yang lebih luas, mencakup semua iklan yang meniru format konten di platformnya, termasuk unggahan bersponsor, widget rekomendasi, dan iklan di hasil pencarian. Advertorial adalah salah satu bentuknya, yaitu iklan dalam bentuk artikel yang dimuat di media.

Ya. Di Indonesia, Pedoman Pemberitaan Media Siber dari Dewan Pers mewajibkan isi berbayar diberi keterangan seperti advertorial, iklan, ads, sponsored, atau kata lain yang menjelaskan bahwa isi itu iklan. Di Amerika Serikat, FTC juga meminta konten berbayar dapat dikenali sebagai iklan.

Contohnya artikel bersponsor berlabel di situs berita, unggahan bersponsor di linimasa media sosial, iklan teks yang tampil di daftar hasil pencarian dengan label iklan, dan kotak rekomendasi konten di bawah artikel yang berisi tautan berbayar.

Kebijakan spam Google menggolongkan advertorial atau native advertising yang tautannya meneruskan nilai peringkat sebagai link spam. Google meminta link berbayar ditandai rel sponsored atau nofollow. Jadi nilai utamanya adalah pembaca, eksposur merek, dan kunjungan, bukan peringkat.

Native advertising memberi ruang untuk menjelaskan produk dengan konteks dan cerita, sehingga cocok untuk produk yang perlu dipahami dulu sebelum dibeli. Iklan banner lebih cocok untuk pesan singkat dan pengingat merek.

Tetapkan tujuan sejak awal, lalu ukur dengan metrik yang sesuai, misalnya kunjungan dari tautan berparameter UTM, waktu baca, pendaftaran atau penjualan dari halaman tujuan, dan pencarian nama merek sesudah kampanye. Bandingkan antar media supaya tahu mana yang layak diulang.

Setiap media dan platform menetapkan tarifnya sendiri. Biayanya dipengaruhi jangkauan media, rubrik, format, jumlah tautan, dan siapa yang menulis naskah. Minta rincian apa saja yang termasuk dalam harga supaya penawaran bisa dibandingkan dengan setara.

Artikel terkait