Lewati ke konten utama

Media & PR

Homeless Media: Pengertian, Cara Kerja, dan Cara Beriklan

Homeless media adalah akun berita yang hidup di Instagram dan TikTok tanpa situs sendiri. Pahami cara kerjanya, risikonya, dan cara brand beriklan di sana.

Tim Redaksi LiputinTerbit 12 menit baca

Ilustrasi ponsel berisi feed kabar kota dengan garis rumah putus-putus di belakangnya, melambangkan media tanpa rumah

Homeless media adalah sebutan untuk akun berita yang hidup sepenuhnya di media sosial, tanpa situs web, kantor redaksi, atau badan hukum pers sebagai rumahnya. Kamu hampir pasti pernah melihatnya: akun info kota di Instagram yang mengabarkan kecelakaan di perempatan dekat rumahmu jauh sebelum portal berita menulisnya.

Panggungnya besar. Menurut DataReportal (Digital 2026: Indonesia), alat iklan Meta mencatat 108 juta pengguna Instagram di Indonesia pada akhir 2025, sementara data iklan TikTok mencatat 180 juta pengguna berusia 18 tahun ke atas. Satu temuan penting untuk brand: studi Remotivi dan Internews (2024) terhadap 3.000 unggahan dari 15 akun di lima kota menemukan hampir separuh unggahan rutin akun-akun ini adalah endorsement, alias konten berbayar.

Artikel ini membahas pengertian, asal istilah, cara kerja di balik layar, contoh akun di Indonesia, bedanya dengan media online dan KOL, lalu cara beriklan di sana tanpa membuang anggaran. Setiap angka di sini bertaut ke sumbernya, jadi kamu bisa mengeceknya sendiri.

Homeless media adalah apa?

Laporan Understanding Homeless Media (Remotivi, 2024) mendefinisikannya sebagai outlet berita yang sejak awal menyebarkan informasi hanya lewat media sosial, dan kini mayoritas berbasis di Instagram. Nama akunnya meniru gaya media: Info Jakarta, Kabar Tangerang Selatan, dan sejenisnya. Isinya foto atau video kejadian terbaru dengan judul besar di atas gambar, lalu caption yang lebih rinci.

Kata "homeless" di sini bukan soal tunawisma. Rumah yang dimaksud adalah alamat situs web atau badan hukum tempat sebuah media terdaftar. Tanpa rumah itu, seluruh keberadaan akun bergantung pada satu platform. Hilangkan akun Instagram-nya, dan medianya ikut hilang.

Bedanya dengan influencer juga penting. Masih menurut studi yang sama, akun-akun ini tidak melekatkan diri pada figur tertentu dan tidak menjual opini pribadi. Yang mereka jual adalah informasi yang punya nilai berita bagi warga sekitar. Buat brand, perbedaan ini menentukan jenis pesan yang cocok, dan kami bahas lebih jauh di bagian perbandingan.

Asal istilah: dari NowThis sampai Remotivi

Istilahnya lahir di luar negeri. Pada akhir 2015, Francesco Marconi, saat itu Strategy Manager di The Associated Press, menulis "The rise of 'homeless' media" tentang gelombang penerbit yang tidak butuh halaman depan atau aplikasi karena kontennya disebar langsung lewat berbagai platform sosial. Contoh yang ia angkat adalah NowThis.

Di Indonesia, istilah ini sudah muncul pada November 2016 ketika Opini.id memperkenalkan konsep homeless media (dicatat studi Remotivi, 2024 dari artikel Bisnis.com), lalu dibahas mendalam lewat esai Eddward Samadyo Kennedy di Remotivi berjudul "Jurnalisme Media Tanpa Rumah" (Oktober 2017). Sejak itu, "media tanpa rumah" dipakai bergantian dengan versi bahasa Inggrisnya.

Istilah ini kembali ramai pada Mei 2026. Kompas.com melaporkan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menyebut akun-akun yang tergabung di New Media Forum sebagai mitra pemerintah, dan beberapa akun langsung membantah direkrut Bakom. Label "homeless" justru berguna untuk brand karena mengingatkan satu hal: semua yang kamu bayar di sana menumpang di rumah orang lain, yaitu platform.

Cara kerja homeless media di balik layar

Dari luar, akun info kota terlihat seperti redaksi kecil. Dari dalam, strukturnya jauh lebih ramping. Tim Remotivi mewawancarai sembilan pengelola dan menemukan hanya satu yang terdaftar sebagai entitas media, itu pun setelah bertahun-tahun beroperasi. Dua akun dikelola satu orang saja, sisanya umumnya dua sampai lima orang. Sebagian menyewa videografer atau fotografer lepas saat ada endorsement yang menuntut produksi lebih rapi.

Dari mana beritanya datang

Bahan baku utamanya kiriman warga dan video yang sudah beredar di media sosial. Warga menandai akun atau mengirim pesan langsung, pengelola menyaring, lalu mengunggah ulang dengan judul yang mudah dibaca. Sebagian pengelola juga mengambil informasi dari polisi, pemadam kebakaran, atau pemerintah daerah.

Standar penyaringannya beragam. Studi itu mencatat pendiri @merekamjakarta mewajibkan setiap kiriman warga memuat tiga unsur sebelum diunggah: di mana, kapan, dan apa. Meski begitu, kecepatan tetap jadi keunggulan utama mereka, sampai-sampai wartawan media arus utama memantau akun-akun tersebut untuk mencari bahan liputan lokal.

Diagram alur kerja homeless media dari kiriman warga, tim kecil, sampai feed yang bercampur endorsement
Alur sederhana homeless media: kiriman warga dan video yang beredar disaring tim kecil, lalu diunggah bersama endorsement yang menjadi sumber pendapatan.

Dari mana uangnya datang

Hampir semua pengelola yang diwawancarai menghidupi akunnya dari endorsement: promosi tempat usaha lokal, hotel, restoran, kafe, dan acara. Porsinya besar. Dari klasifikasi tim peneliti, hampir separuh unggahan rutin adalah endorsement.

Di sinilah temuan yang paling berguna untuk brand. Unggahan endorsement cenderung jauh lebih sepi dibanding berita lokal. Saat peneliti membuka @infojkt (akun berbeda dari @infojkt24 di tabel) pada Juli 2024, berita lokal mendapat 1.000-2.000 likes, sementara unggahan endorsement nyaris tidak menyentuh 100.

Tapi tidak semua endorsement sama lemahnya. Rekomendasi tempat wisata, tempat nongkrong, dan kuliner lebih sering ramai dibanding rekomendasi belanja atau jasa, apalagi yang hanya berupa poster promosi. Peneliti menduga poster dipakai karena anggaran endorsement-nya terbatas.

Catatan

Pelajaran kami dari data ini sederhana. Yang kamu beli bukan jumlah pengikut, melainkan kemampuan akun membuat promosimu terasa seperti bagian dari cerita kotanya.

Contoh homeless media Indonesia dan kenapa daftarnya membingungkan

Kalau kamu mencari daftar homeless media, kamu akan menemukan dua kelompok nama yang karakternya berbeda. Kami memetakan homeless media Indonesia ke dua kelompok itu supaya kamu tidak salah memilih.

Kelompok Contoh akun Ciri isi Cocok untuk brand yang
Info kota dan daerah @infojkt24, @merekamjakarta, @surabayaterkini, @bandung.banget, @jogja24jam, @merapi_uncover, @infomedan (sampel studi Remotivi, 2024) Kejadian lokal, lalu lintas, kuliner, acara kota Punya gerai, cabang, atau acara di kota tertentu
Kanal media sosial nasional (disebut Bakom, sebagian punya situs) Folkative, Dagelan, Kok Bisa?, Bapak-Bapak ID, Ngomongin Uang, Menjadi Manusia (disebut Bakom, dilaporkan Kompas.com, Mei 2026) Hiburan, gaya hidup, penjelasan isu, keuangan pribadi Menyasar minat atau usia, bukan lokasi

Kami sengaja tidak mencantumkan jumlah pengikut. Angka itu berubah tiap minggu, dan kami tidak menemukan sumber stabil untuk memverifikasinya.

Kalau kamu butuh daftar akun info kota yang lebih lengkap, berikut 15 akun Instagram yang menjadi sampel studi Remotivi (Figure 1.1, data dikumpulkan Maret 2024). Daftar ini contoh dari penelitian, bukan rekomendasi kami.

Kota Akun sampel studi
Jakarta @merekamjakarta, @kabarjakarta1, @infojkt24
Bandung @sekitarbandungcom, @bandung.banget, @infobandungraya
Yogyakarta @kabarjogja, @jogja24jam, @merapi_uncover
Surabaya @surabayaterkini, @info_surabaya, @insidesuroboyo
Medan @buletinmedan, @infomedan, @medannewss.id

Kelompok kedua perlu dibaca hati-hati. Daftar yang dikutip Kompas.com juga memuat Narasi, GNFI, dan CXO Media. Saat kami cek pada akhir September 2026, Narasi, GNFI, dan CXO Media punya situs sendiri (narasi.tv, goodnewsfromindonesia.id, cxomedia.id), begitu pula Folkative dan Ngomongin Uang yang ada di tabel (folkative.com, ngomonginuang.com). Artinya, dalam percakapan sehari-hari, label ini sudah melebar menjadi "media yang besar di media sosial", bukan lagi "media yang tidak punya situs".

Buat brand, bedanya praktis. Akun info kota menjual kedekatan geografis, kanal tematik menjual kedekatan minat. Pertanyaan pertamamu sebaiknya: pelangganku berkumpul karena kota yang sama, atau karena minat yang sama?

Tips

Homeless media, media online, dan KOL: bedanya di mana?

Tiga saluran ini sering dijual dalam satu paket "publikasi", padahal cara kerjanya berbeda. Tabel berikut merangkum perbedaan yang paling berpengaruh ke keputusan belanja iklanmu.

Aspek Homeless media Media online (pers) KOL
Rumah konten Akun Instagram, TikTok, atau YouTube Situs berita milik perusahaan pers Akun pribadi kreator
Status hukum Umumnya tidak terdaftar sebagai perusahaan pers Perusahaan pers, terikat UU Pers dan kode etik Perorangan, bukan pers
Daya tarik utama Kabar lokal yang cepat Kredibilitas dan arsip yang bisa dicari Kepercayaan pada figur
Aturan label iklan Label paid partnership dari platform Wajib keterangan "advertorial", "iklan", "ads", atau "sponsored" Label paid partnership dari platform
Jangkauan bergantung pada Algoritma feed platform Mesin pencari, pembaca langsung, dan media sosial Algoritma feed platform
Memberi backlink ke situsmu Tidak Ya, bila artikel memuat tautan ke situsmu Tidak

Kewajiban label di kolom media online berasal dari butir 6 Pedoman Pemberitaan Media Siber, yang meminta media siber membedakan berita dan iklan secara tegas. Soal status hukum, laporan Remotivi mencatat homeless media tidak dilindungi UU Pers. Ini berbeda dengan akun media sosial milik perusahaan pers. Dewan Pers menyatakan akun yang mengikuti Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2022 otomatis dilindungi UU Pers. Jadi akun Instagram sebuah portal berita resmi bukan homeless media, walau tampilannya mirip.

Sikap Dewan Pers terhadap homeless media sendiri cenderung terbuka. Dalam siaran pers Juni 2026, lembaga itu menilai homeless media dan content creator sebagai bagian dari kebebasan berekspresi, dengan segala pro kontranya. Sebulan sebelumnya, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mengingatkan agar mereka tidak dijadikan humas pemerintah (Okezone, Mei 2026).

Kami kurang sreg dengan paket yang mencampur tiga saluran ini lalu menjualnya dengan satu angka "total jangkauan". Tayangan Story yang cepat lenyap dari layar dan artikel yang masih bisa dicari tahun depan tidak bisa dibandingkan begitu saja.

Kesimpulan praktisnya begini. Kalau tujuanmu orang datang ke tokomu minggu ini, homeless media masuk akal. Kalau tujuanmu jejak yang bisa dicari bertahun-tahun atau sinyal tautan untuk SEO, kamu butuh artikel di media online atau blog. Penjelasannya ada di artikel kami tentang cara kerja backlink dan format advertorial. Kalau yang kamu incar figur perorangan, baca dulu pengertian KOL dan cara memilihnya.

Cara brand beriklan di homeless media secara terukur

Urutannya sederhana, dan setiap langkah menjawab satu temuan dari data di atas.

1. Tetapkan satu tujuan yang bisa dihitung

Kunjungan ke gerai, pendaftar acara, pemakai kode promo, atau klik tautan. Pilih satu. Tujuan "biar dikenal" sulit diukur dan membuatmu mudah terpukau oleh angka tayangan yang tidak berujung ke penjualan.

2. Pilih akun berdasarkan kota dan audiens, bukan pengikut

Minta screenshot insight terbaru: sebaran kota, rentang usia, dan jangkauan rata-rata per unggahan, lengkap dengan tanggal pengambilannya. Akun besar yang audiensnya tersebar ke banyak kota bisa kalah dari akun kecil yang audiensnya tinggal di sekitar tokomu.

3. Audit 20 sampai 30 unggahan terakhir

Hitung berapa yang endorsement, lalu bandingkan likes-nya dengan unggahan berita. Kalau feed dipenuhi promosi dan endorsement-nya sepi seperti contoh @infojkt tadi, promosimu kemungkinan bernasib sama. Cek juga isi beritanya. Akun yang rajin mengunggah kekerasan tanpa sensor atau kabar yang sumbernya tidak jelas bisa menyeret nama brand-mu.

4. Minta konten produksi akun, bukan repost poster

Data Remotivi menunjukkan endorsement berupa liputan tempat yang visual lebih sering ramai dibanding poster promosi. Ada alasan kedua. Kebijakan branded content Meta menyebut kreator tidak boleh menerima imbalan untuk mengunggah konten yang tidak menampilkan diri mereka atau yang tidak ikut mereka buat. Menurut kami, repost poster buatan brand berada di wilayah abu-abu aturan itu. Lebih aman meminta akun memproduksi kontennya sendiri berdasarkan brief darimu.

Ilustrasi audit unggahan akun homeless media dengan kaca pembesar, papan periksa, dan kalender
Sebelum membayar endorsement, audit unggahan terakhir akun, minta insight bertanggal, dan kunci tanggal tayang di brief.

5. Wajibkan label kemitraan berbayar

Instagram menyatakan kebijakan branded content-nya mewajibkan label paid partnership untuk menandai brand yang diajak bekerja sama. Label itu tersedia di Feed, Stories, Reels, Live, dan video, dan akun brand-mu harus berupa akun profesional agar bisa menyetujui tag tersebut. TikTok juga mewajibkan pengaturan pengungkapan konten komersial. Video yang tidak diungkapkan dengan benar bisa tidak layak tampil di For You.

Kekhawatiran klasik "nanti jangkauannya turun kalau ada label iklan" punya jawaban. TikTok menyebut studi internalnya pada hampir 2 juta video, yang diuji di Indonesia dan Pakistan pada 2023, tidak menemukan perbedaan performa antara video dengan dan tanpa pengungkapan yang benar.

Di luar aturan platform, pasal 4.6.11 huruf b Etika Pariwara Indonesia (2020) melarang penggunaan media sosial pribadi untuk menayangkan iklan komersial, kecuali unsur iklannya sudah disebutkan secara jelas. Akun homeless media memang bukan akun pribadi dalam arti sempit, tetapi semangat aturannya sama: unsur iklan harus disebut jelas.

Perhatian

6. Kunci brief, tanggal tayang, dan bukti

Tulis di brief: pesan utama, hal yang tidak boleh diucapkan, tanggal dan jam tayang, format, dan metrik yang akan dilaporkan beserta tanggal pengambilannya. Setelah tayang, simpan URL unggahan dan minta screenshot insight beberapa hari kemudian.

Angka yang dilaporkan akun tetaplah angka laporan. Bandingkan dengan yang bisa kamu hitung sendiri: kode promo yang terpakai, klik dari tautan ber-UTM (penanda di ujung tautan yang memberi tahu Google Analytics asal klik), atau pembeli yang menyebut nama akun di kasir.

Kalau kamu memesan lewat perantara, pilih yang mencatat hal-hal ini untukmu: tanggal data insight, screenshot yang bisa dicocokkan dengan akun aslinya, tanggal tayang di brief, bukti tayang berupa URL, dan batas revisi yang tertulis sejak awal.

Risiko sebelum membayar endorsement

Banyak pembahasan berhenti di "homeless media cepat dan dekat dengan warga". Itu benar, tapi ada empat risiko yang sebaiknya kamu hitung sebelum transfer.

Akun bisa hilang dalam semalam. Remotivi mencatat pendiri @merapi_uncover pernah kehilangan akun lain karena diretas dan tidak bisa memulihkannya. Para pengelola yang diwawancarai juga tidak punya rencana mitigasi. Saran kami, jangan membayar paket panjang di muka untuk satu akun. Pecah per unggahan.

Kabar keliru bisa bersebelahan dengan brand-mu. Karena mengutamakan kecepatan dan engagement, akun-akun ini rawan mengunggah ulang misinformasi, dan studi itu mencatat misinformasi sudah menjadi kekhawatiran besar bagi audiensnya sendiri. Unggahanmu tampil di feed yang sama dengan kabar-kabar tersebut.

Kedekatan dengan kekuasaan. Studi yang sama menemukan sebagian akun menunjukkan dukungan pada kandidat tertentu di Pemilu 2024, dan ada akun yang informasinya terutama bersumber dari satu institusi. Perdebatan soal kemitraan dengan Bakom pada Mei 2026 menambah pertanyaan soal independensi. Kalau brand-mu butuh kesan netral, telusuri jejak unggahan politik akun sebelum sepakat.

Aturan masih bergerak. Judul siaran pers Dewan Pers pada 15 Juni 2026 menyebut lembaga itu menyiapkan usulan regulasi untuk homeless media dan media sosial. Kewajiban label atau pendaftaran bisa berubah. Simpan bukti label dan brief setiap kampanye supaya kamu siap kalau aturan main mengetat.

Ada juga sisi baiknya. Beberapa pengelola punya batasan sendiri: ada yang menolak endorsement partai politik, minuman beralkohol, dan rokok, ada pula yang menolak judi online, investasi, obat yang belum tersertifikasi BPOM, atau apa pun yang terlihat seperti penipuan. Akun yang bisa menyebutkan daftar penolakannya dengan jelas layak dapat nilai plus, karena itu tanda mereka menjaga reputasi.

Tips

Kesimpulan: kapan homeless media masuk rencana promosimu

Homeless media paling masuk akal ketika pelangganmu berkumpul di satu kota atau satu minat, pesanmu bisa dikemas sebagai kabar yang berguna, dan kamu siap mengukur hasilnya dengan kode promo atau tautan berpenanda. Saluran ini kurang cocok bila yang kamu kejar adalah kredibilitas jangka panjang atau tautan yang terbaca mesin pencari.

Pola yang paling sehat biasanya kombinasi. Artikel bersponsor di media online memberi jejak yang bisa dicari dan dikutip, lalu akun info kota atau kanal tematik mendorong orang bergerak minggu ini. Untuk bagian artikelnya, kamu bisa memilih artikel bersponsor di media online yang label konten berbayarnya dideklarasikan sebelum memesan. Untuk sisi PR-nya, lanjutkan ke panduan digital PR dan cara kerja press release.

Sumber

  1. Remotivi dan Internews (2024), Understanding Homeless Media: A Study on Social Media Based Informal Local News in Five Indonesian Cities, halaman penelitian Remotivi. PDF laporan lengkap (lisensi CC BY 3.0) di alamat Internews kini tidak tersedia, jadi angka di artikel ini merujuk ke arsip PDF lengkapnya di Wayback Machine (diarsipkan 9 Februari 2025).
  2. Eddward Samadyo Kennedy, Jurnalisme Media Tanpa Rumah, Remotivi, Oktober 2017
  3. Francesco Marconi, The rise of "homeless" media, Digital Content Next, 4 Desember 2015
  4. Kompas.com, Apa Itu "Homeless Media" yang Viral Usai Isu Dirangkul oleh Bakom RI?, 7 Mei 2026
  5. Okezone, Pemerintah Gandeng Homeless Media, Dewan Pers: Jangan Dijadikan Humas!, 10 Mei 2026
  6. Dewan Pers, Dewan Pers Perjuangkan Hak Ekonomi Media serta Siapkan Usulan Regulasi 'Homeless' dan Sosmed, 15 Juni 2026
  7. DataReportal, Digital 2026: Indonesia
  8. Instagram Help Center, How to use the paid partnership label to tag organic branded content on Instagram
  9. Meta Business Help Centre, Branded Content Policies
  10. TikTok Ads Help, About the Commercial Content Disclosure setting for creators
  11. Dewan Periklanan Indonesia, Etika Pariwara Indonesia Amandemen 2020 (PDF), pasal 4.6.11 huruf b
  12. ANTARA, Pedoman Pemberitaan Media Siber, butir 6

Pertanyaan yang sering diajukan

Homeless media adalah akun berita yang menyebarkan informasi hanya lewat media sosial seperti Instagram, TikTok, atau YouTube, tanpa situs web atau badan hukum pers sebagai rumahnya. Kebanyakan berfokus pada kabar lokal satu kota dan hidup dari endorsement.

Menurut studi Remotivi dan Internews (2024), homeless media tidak melekatkan diri pada figur tertentu dan tidak menjual opini pribadi. Yang disajikan adalah informasi bernilai berita untuk warga. Studi itu membandingkannya dengan influencer media sosial. Soal KOL, pembeda versi redaksi Liputin: KOL menjual kepercayaan audiens pada dirinya sebagai pribadi.

Umumnya tidak. Sebagian besar tidak terdaftar sebagai perusahaan pers sehingga tidak dilindungi UU Pers. Akun media sosial milik perusahaan pers yang mengikuti Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2022 berbeda statusnya, jadi tidak termasuk homeless media walau tampilannya mirip.

Ya. Kebijakan branded content Instagram mewajibkan label paid partnership untuk menandai brand yang bekerja sama, dan TikTok mewajibkan pengaturan pengungkapan konten komersial. Etika Pariwara Indonesia 2020 butir 4.6.11 huruf b juga meminta unsur iklan komersial di media sosial pribadi disebutkan secara jelas.

Tidak. Unggahan di Instagram atau TikTok bukan halaman di situs lain yang menautkan ke situsmu. Kalau yang kamu butuhkan backlink, jalurnya artikel bersponsor di media online atau blog yang memuat tautan ke situsmu.

Francesco Marconi, saat itu Strategy Manager di The Associated Press, memakai istilah ini pada akhir 2015 untuk penerbit yang menyebarkan konten tanpa bergantung pada halaman depan atau aplikasi sendiri. Di Indonesia, istilah ini sudah muncul pada November 2016 saat Opini.id memperkenalkan konsep homeless media, lalu dibahas mendalam lewat esai Eddward Samadyo Kennedy di Remotivi pada Oktober 2017.

Artikel terkait