Lewati ke konten utama

Backlink & SEO

Broken Link: Pengertian, Dampak SEO, dan Cara Memperbaikinya

Broken link adalah tautan yang mengarah ke halaman yang tidak bisa dibuka. Pelajari penyebabnya, dampaknya ke SEO, cara mencari, dan cara memperbaikinya.

Tim Redaksi LiputinTerbit 10 menit baca

Ilustrasi rantai tautan yang putus di tengah, satu mata rantai oranye terlepas, dan jendela peramban dengan tanda silang

Broken link adalah tautan yang mengarah ke halaman yang tidak bisa dibuka. Dalam bahasa Indonesia sering disebut link rusak atau link mati. Penyebabnya biasanya halaman tujuan dihapus, alamatnya diganti tanpa redirect, atau domainnya sudah tidak aktif, sehingga pengunjung yang mengklik tautan itu mendarat di halaman error 404.

Broken link jauh lebih umum daripada yang dibayangkan. Riset Pew Research Center tahun 2024 menemukan 38% halaman web yang ada pada 2013 sudah tidak bisa diakses pada 2023. Riset yang sama menemukan 23% halaman berita dan 21% halaman situs pemerintah memuat setidaknya satu broken link.

Panduan ini membahas jenis broken link, penyebabnya, dampaknya ke SEO menurut dokumentasi Google, cara mencarinya, cara memperbaikinya, dan teknik broken link building untuk mendapatkan backlink.

Broken link bisa dilihat dari arah tautannya. Ketiganya sama-sama menghasilkan halaman error, tetapi pemiliknya dan cara memperbaikinya berbeda.

Diagram jenis broken link: tautan internal ke halaman sendiri yang hilang, tautan keluar ke situs lain yang hilang, dan backlink dari situs lain ke halaman kamu yang hilang
Ada tiga arah broken link. Cara memperbaikinya berbeda untuk tiap arah.
Jenis Arah tautan Siapa yang bisa memperbaiki Contoh
Internal Halamanmu ke halamanmu sendiri Kamu Menu menaut ke artikel yang sudah dihapus
Keluar (outbound) Halamanmu ke situs lain Kamu, dengan mengganti atau menghapus tautan Artikelmu mengutip sumber yang situsnya sudah tutup
Masuk (backlink) Situs lain ke halamanmu Kamu lewat redirect, atau pemilik situs lain Media menaut ke halaman promo lama yang sudah kamu hapus

Pew Research Center mencatat bahwa dari broken link yang mereka temukan di halaman berita dan pemerintah, sebagian besar (86%) adalah tautan internal. Artinya, banyak broken link sebenarnya ada di tangan pemilik situs sendiri.

  • Halaman dihapus. Produk habis, promo selesai, atau artikel lama dianggap tidak relevan lalu dihapus tanpa pengganti.
  • URL diganti tanpa redirect. Misalnya mengubah slug artikel, memindah blog ke subfolder lain, atau ganti platform situs.
  • Salah ketik saat menautkan. Huruf kurang, garis miring berlebih, atau tautan disalin tidak lengkap.
  • Domain tujuan mati. Situs yang kamu kutip tutup atau domainnya tidak diperpanjang. Pew mencatat sebagian halaman yang hilang berasal dari domain yang seluruhnya sudah tidak berfungsi.
  • Konten pindah di sisi situs lain. Situs yang kamu tautkan merombak strukturnya tanpa redirect.

Fenomena tautan yang perlahan mati seiring waktu ini disebut link rot. Wikipedia mencatat berbagai studi dengan angka yang berbeda-beda, misalnya studi tahun 2003 yang menemukan sekitar satu dari 200 tautan putus setiap minggu (Wikipedia).

Dokumentasi Google Search Central tentang kode status HTTP cukup jelas soal halaman yang mati:

  • Google tidak memakai konten dari URL yang membalas kode 4xx, dan tidak mengindeksnya.
  • URL yang sudah terindeks lalu membalas 4xx akan dihapus dari indeks seiring waktu.
  • Semua kode 4xx kecuali 429 diperlakukan sama: crawler memberi tahu sistem berikutnya bahwa konten tidak ada, dan frekuensi crawl ke URL itu menurun bertahap.

Dari sini ada beberapa konsekuensi praktis:

  1. Halaman yang mati hilang dari pencarian. Kalau halaman penting tidak sengaja membalas 404, trafik organiknya ikut hilang.
  2. Backlink ke halaman mati tidak sampai. Media yang dulu menaut ke halamanmu kini mengirim pembaca ke halaman error.
  3. Pengunjung kecewa. Tautan yang tidak bisa dibuka membuat situs terasa tidak terawat, dan sinyal kepercayaan seperti ini berkaitan dengan konsep E-E-A-T.

Catatan

Hati-hati juga dengan kebalikannya: halaman yang membalas kode 200 tetapi isinya pesan error atau kosong. Google menyebut kode 2xx tidak menjamin pengindeksan, dan halaman seperti ini akan tampil sebagai soft 404 di Search Console.

Ada tiga sumber data yang saling melengkapi:

Cara Menemukan Catatan
Google Search Console, laporan pengindeksan halaman URL di situsmu yang dikunjungi Google dan membalas tidak ditemukan atau soft 404 Gratis, data dari sisi Google, tidak selalu langsung
Crawler situs (alat audit SEO) Tautan internal dan keluar yang membalas 4xx atau 5xx Bagus untuk audit berkala sebelum dan sesudah migrasi
Alat analisis backlink Backlink dari situs lain yang mengarah ke halamanmu yang mati Langkah lengkapnya ada di panduan cara cek backlink

Untuk situs kecil, kamu juga bisa mengecek manual halaman-halaman terpenting: beranda, menu, halaman produk, dan artikel yang paling banyak dikunjungi.

Tips

Ada empat pilihan, dan pilihannya bergantung pada satu pertanyaan: adakah halaman pengganti yang benar-benar setara?

Diagram alur memutuskan perbaikan broken link: perbarui tautan, pasang redirect 301 ke halaman pengganti, kembalikan halaman, atau hapus tautan
Empat pilihan perbaikan. Pilih berdasarkan apakah ada halaman pengganti yang benar-benar setara.
  1. Perbarui tautannya. Untuk broken link internal dan keluar, ganti alamatnya ke URL yang benar. Ini perbaikan paling bersih.
  2. Pasang redirect 301. Kalau halaman lama pindah atau ada pengganti yang setara, arahkan URL lama ke URL baru. Google menyebut 301 sebagai sinyal kuat bahwa tujuan redirect yang perlu diproses, sedangkan 302 hanya sinyal lemah.
  3. Kembalikan halamannya. Kalau halaman yang terhapus ternyata masih dicari atau punya banyak backlink, pertimbangkan menerbitkannya lagi dengan isi yang diperbarui.
  4. Hapus tautannya, dan biarkan 404 atau 410. Kalau tidak ada pengganti yang setara, lebih jujur membiarkan halaman membalas 404 atau 410 daripada mengarahkannya ke halaman yang tidak relevan.

Perhatian

Untuk broken link keluar di artikelmu, cari sumber pengganti yang memuat informasi yang sama, atau tautkan ke arsip halaman itu bila tersedia. Kalau tidak ada, hapus tautannya dan tulis ulang kalimatnya supaya klaim tidak menggantung tanpa sumber.

Broken link building adalah teknik mencari halaman di situs lain yang memuat tautan mati, lalu menawarkan kontenmu sebagai pengganti kepada pemiliknya. Bagi pemilik situs, ini bantuan nyata karena tautan rusaknya diperbaiki. Bagimu, ini peluang mendapatkan backlink yang relevan.

Diagram langkah broken link building: cari halaman sumber yang tautannya mati, siapkan konten pengganti yang setara, lalu hubungi pemilik situs
Broken link building hanya masuk akal kalau kontenmu memang pengganti yang layak, bukan sekadar mirip.
  1. Cari halaman sumber. Halaman sumber daya, daftar rujukan, atau artikel lama di niche-mu yang memuat tautan keluar mati.
  2. Pastikan kontenmu setara. Kontenmu harus membahas hal yang sama dengan halaman yang mati, bukan sekadar topik yang mirip.
  3. Hubungi pemilik situs dengan sopan. Sebutkan halaman dan tautan yang mati, tawarkan penggantinya, dan biarkan mereka memutuskan.
  4. Jangan meminta anchor tertentu. Biarkan pemilik situs menulis anchor text yang wajar.

Teknik ini termasuk cara mendapatkan backlink tanpa membayar, seperti beberapa cara lain yang dibahas di panduan backlink gratis. Kalau ternyata ada imbalan uang untuk penempatan tautan, tautan itu wajib ditandai sesuai panduan Google tentang rel nofollow dan rel sponsored.

Contoh kasus: migrasi blog yang meninggalkan tautan mati

Bayangkan sebuah toko online memindahkan blognya dari subdomain blog.contoh.com ke subfolder contoh.com/blog/, sekaligus mengganti format slug dari yang memuat tanggal menjadi slug pendek. Situs baru terlihat rapi, tetapi tanpa daftar redirect, setiap alamat lama kini membalas 404.

Dampaknya muncul di tiga tempat sekaligus. Pertama, tautan internal di artikel lama yang ditulis manual masih mengarah ke alamat subdomain. Kedua, media dan blog lain yang dulu menautkan artikel itu kini mengirim pembacanya ke halaman error. Ketiga, URL lama yang sudah terindeks perlahan keluar dari indeks Google karena membalas 4xx, sesuai dokumentasi Google yang dibahas di atas.

Cara mencegahnya sederhana tetapi butuh disiplin:

  1. Sebelum migrasi, ekspor daftar semua URL lama dari sitemap dan dari alat analisis backlink.
  2. Petakan setiap URL lama ke URL baru yang setara, satu per satu, di spreadsheet.
  3. Pasang redirect 301 sesuai peta itu, bukan satu aturan yang mengarahkan semuanya ke beranda.
  4. Setelah migrasi, jalankan crawler untuk mencari tautan internal yang masih menunjuk ke alamat lama, lalu perbarui langsung ke alamat baru supaya tidak bergantung pada redirect.
  5. Pantau laporan pengindeksan di Search Console selama beberapa minggu untuk menangkap URL yang terlewat.

Broken link juga bisa muncul setelah transaksi selesai. Pengiklan membayar penempatan artikel dengan tautan ke halaman produk, lalu beberapa bulan kemudian halaman produk itu dihapus atau alamatnya diganti. Tautan di artikel bersponsor tetap ada, tetapi kini mengarah ke 404, sehingga nilai kerja sama itu hilang diam-diam.

Kebalikannya juga terjadi: artikel di sisi publisher yang dihapus, dipindah kategori, atau berubah alamat tanpa redirect. Karena itu, pemeriksaan tautan sebaiknya tidak berhenti di hari tayang. Dua kebiasaan yang membantu:

  • Bagi pengiklan: perlakukan halaman yang ditautkan dari artikel bersponsor sebagai halaman yang dilindungi. Kalau harus diganti, pasang redirect 301 ke halaman pengganti yang setara.
  • Bagi publisher: jaga alamat artikel tetap stabil, dan kalau terpaksa mengubahnya, pasang redirect serta beri tahu pengiklan. Daftar kebijakan seperti ini bisa dicantumkan di media kit supaya jelas sejak awal.

Atribut tautan dalam kerja sama berbayar juga perlu tetap sesuai deklarasi setelah tayang. Cara membaca dan memeriksa atribut itu dibahas di panduan rel nofollow.

  • Rencanakan URL sejak awal. Slug yang pendek dan tidak memuat tanggal atau tahun lebih jarang perlu diganti.
  • Selalu redirect saat mengganti URL. Catat setiap perubahan URL beserta redirect-nya.
  • Pilih sumber yang stabil. Saat menautkan keluar, utamakan halaman resmi dan lembaga yang cenderung menjaga alamatnya.
  • Audit setelah perubahan besar. Ganti tema, migrasi platform, atau merapikan kategori hampir selalu menyisakan tautan mati.
  • Pantau backlink penting. Halaman yang ditautkan media perlu dijaga tetap hidup, atau diarahkan dengan benar bila harus pindah.

Kalau kamu menempatkan tautan lewat guest post atau artikel bersponsor, simpan daftar URL tempat tautan itu tayang beserta URL tujuannya. Saat struktur situsmu berubah, daftar ini langsung menunjukkan tautan masuk mana yang perlu dialihkan agar tidak berakhir di halaman 404. Daftar yang sama juga berguna untuk pemeriksaan berkala: buka ulang beberapa halaman perujuk setiap bulan dan pastikan tautannya masih ada.

Saat memilih situs perujuk, jangan menilai hanya dari metrik pihak ketiga seperti Domain Rating. Tautan dari halaman yang relevan dan terawat cenderung bertahan lebih lama daripada tautan dari halaman bermetrik tinggi yang kemudian dihapus atau dipindah tanpa redirect.

Terakhir, tetapkan siapa yang bertanggung jawab. Di tim kecil, pemeriksaan tautan sering terlewat karena dianggap urusan semua orang. Tunjuk satu orang untuk menjalankan crawler setiap bulan, membaca laporan halaman tidak ditemukan di Search Console, dan mencatat perbaikan yang sudah dilakukan. Catatan sederhana berisi tanggal, URL, dan tindakan sudah cukup untuk melihat apakah jumlah tautan mati makin berkurang dari bulan ke bulan.

Diagram empat langkah rutinitas bulanan memeriksa broken link: jalankan crawler, baca Search Console, cek halaman perujuk, lalu catat tindakan
Pemeriksaan bulanan yang dicatat memperlihatkan apakah jumlah tautan mati makin berkurang.

Ringkasan

Broken link adalah tautan yang mengarah ke halaman yang tidak bisa dibuka. Menurut dokumentasi Google, URL yang membalas 4xx tidak diindeks dan dihapus dari indeks seiring waktu, sehingga halaman penting yang mati kehilangan trafik dan backlink-nya. Cari broken link lewat Search Console, crawler situs, dan alat backlink; perbaiki dengan memperbarui tautan, redirect 301 ke pengganti yang setara, atau membiarkan 404 bila memang tidak ada pengganti.

Mau tahu bagaimana tautan dari order di marketplace dicek saat tayang dan dipantau sesudahnya supaya tidak diam-diam mati? Lihat halaman cara kerja order dan pemantauan link.

Pertanyaan yang sering diajukan

Broken link atau link rusak adalah tautan yang mengarah ke halaman yang tidak bisa dibuka, biasanya karena halaman tujuannya dihapus, dipindah tanpa redirect, atau domainnya sudah mati. Pengunjung yang mengekliknya biasanya melihat halaman error 404.

Google menyebut URL yang membalas kode 4xx tidak diindeks, dan URL yang sudah terindeks lalu membalas 4xx akan dihapus dari indeks. Jadi halaman yang mati tidak bisa tampil di hasil pencarian. Bagi pengunjung, broken link juga membuat situs terasa tidak terawat.

Gunakan laporan pengindeksan halaman di Google Search Console untuk melihat URL yang tidak ditemukan, alat crawler situs untuk memindai tautan yang membalas 404, atau alat analisis backlink untuk melihat backlink yang mengarah ke halaman mati.

Keduanya kode error klien. Google menyebut semua kode 4xx kecuali 429 diperlakukan sama: crawler memberi tahu sistem berikutnya bahwa konten tidak ada. Secara makna, 404 berarti tidak ditemukan, sedangkan 410 berarti sengaja dihapus permanen.

Pakai redirect 301 kalau ada halaman pengganti yang isinya setara dengan halaman lama. Google menyebut 301 sebagai sinyal kuat bahwa tujuan redirect yang perlu diproses. Jangan mengarahkan semua halaman mati ke beranda.

Cukup sering. Riset Pew Research Center tahun 2024 menemukan 38% halaman web yang ada pada 2013 sudah tidak bisa diakses pada 2023, dan 23% halaman berita memuat setidaknya satu broken link.

Broken link building adalah teknik mencari halaman di situs lain yang memuat tautan mati, lalu menawarkan kontenmu sebagai pengganti kepada pemilik situs. Teknik ini hanya etis dan efektif kalau kontenmu benar-benar setara dan berguna bagi pembaca halaman itu.

Tautan mati di situs orang lain yang mengarah ke situsmu berarti backlink itu tidak sampai ke halaman yang hidup. Kalau halaman itu dulu milikmu dan kini pindah, pasang redirect 301 ke halaman barunya supaya pengunjung dari tautan itu tetap sampai.

Artikel terkait