Lewati ke konten utama

Media & PR

Digital PR Adalah: Cara Meraih Liputan Media dan Backlink

Digital PR adalah cara membangun reputasi lewat liputan media online, kreator, dan backlink. Pahami bedanya dengan media relations dan cara mengukurnya.

Tim Redaksi LiputinTerbit 13 menit baca

Ilustrasi konsep digital PR: halaman artikel media online yang terhubung dengan satu tautan ke situs bisnis, dikelilingi ikon kutipan, video pendek, dan kaca pembesar

Digital PR adalah kerja membangun reputasi brand di internet dengan membuat pihak lain membicarakan, mengutip, dan menautkan bisnismu. Pihak lain itu bisa media online, wartawan, kreator, atau komunitas. Hasilnya berupa jejak yang bisa dicari ulang kapan saja: artikel di media, kutipan narasumber, unggahan kreator, dan backlink ke situsmu.

Kenapa sekarang makin relevan? Survei APJII 2025 mencatat 229.428.417 pengguna internet di Indonesia, atau penetrasi 80,66 persen, seperti dilaporkan Kompas.com. Cara orang mendapat berita juga bergeser. Digital News Report 2025 dari Reuters Institute mencatat 57% responden Indonesia mendapat berita dari media sosial. TikTok sebagai sumber berita naik 5 poin menjadi 34%.

Panduan ini membahas apa itu digital PR, bedanya dengan media relations, dan mana hasil yang didapat (earned) atau dibayar. Setelah itu, kamu akan menemukan taktik yang masuk akal untuk bisnis di Indonesia, langkah kampanye, dan cara mengukur hasil tanpa angka kosong.

Digital PR adalah apa, dan apa bedanya dengan PR biasa

Public relations pada dasarnya urusan reputasi. Chartered Institute of Public Relations (CIPR) merumuskan reputasi sebagai hasil dari apa yang kamu lakukan, apa yang kamu katakan, dan apa yang orang lain katakan tentangmu. Bagian terakhir itu yang paling sulit dikendalikan. Di situlah digital PR bekerja.

Singkatnya, digital PR adalah praktik PR yang hasil akhirnya hidup di web. Prinsipnya sama dengan PR konvensional: punya cerita yang layak, sampaikan ke orang yang tepat, dan rawat hubungannya. Bedanya ada pada jejak. Liputan di koran cetak berhenti di edisi hari itu. Artikel di media online bisa ditemukan lewat Google bertahun-tahun kemudian, dikutip ulang, dan memuat tautan yang bisa diklik pembaca.

Manfaat digital PR: disebut, ditautkan, dipercaya

  1. Disebut. Nama brand, produk, atau narasumbermu muncul di media, podcast, newsletter, atau konten kreator.
  2. Ditautkan. Sebutan itu disertai tautan ke situsmu. Inilah jembatan ke SEO, karena backlink dari halaman yang relevan membantu mesin pencari dan pembaca menemukan situsmu.
  3. Dipercaya. Orang yang mencari namamu menemukan pihak ketiga yang membicarakanmu, bukan hanya iklan yang kamu pasang sendiri.

Banyak orang hanya mengejar nomor dua, lalu heran kenapa hasilnya terasa hampa. Menurut kami, urutannya terbalik. Tautan yang bertahan lama biasanya lahir dari cerita yang memang layak disebut, bukan sebaliknya.

Google sendiri tidak memusuhi praktik ini. Pada 23 Januari 2021, John Mueller dari Google menulis bahwa ia menyukai sebagian hasil kerja digital PR. Ia menyayangkan praktik ini sering disamakan dengan link building spam, lalu menilainya sama pentingnya dengan SEO teknis, bahkan mungkin lebih dalam banyak kasus. Pernyataan itu dicatat Search Engine Roundtable.

Panduan SEO untuk pemula dari Google juga menyebut informasi dari mulut ke mulut sebagai salah satu cara promosi paling efektif dan tahan lama. Kalau dipikir, digital PR adalah versi terencana dari mulut ke mulut itu, dengan media dan kreator sebagai pengeras suaranya.

Media relations adalah fondasi digital PR

Kalau digital PR adalah strateginya, media relations adalah salah satu mesin utamanya. Media relations adalah kerja menjalin hubungan dengan wartawan, editor, dan redaksi supaya informasi dari organisasimu sampai ke publik lewat pemberitaan. Kegiatannya konkret: menulis press release, menawarkan narasumber, menjawab pertanyaan wartawan dengan cepat, dan menjaga kontak tetap hidup di luar momen peluncuran.

Hubungan ini masih efektif kalau dijalankan dengan benar. Laporan State of Journalism 2025 dari Muck Rack, seperti dirangkum Buchanan PR, mencatat 84% jurnalis menyatakan pitch dari praktisi PR bisa berujung menjadi berita. Tetapi 86% juga menyatakan akan mengabaikan pitch yang tidak sesuai topik liputan mereka. Artinya, masalah terbesar biasanya bukan kurang kontak, melainkan salah sasaran.

Ada satu hal khas Indonesia yang perlu disebut terang: "amplop". Kode Etik Jurnalistik Pasal 6 menyatakan wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Penafsirannya menyebut suap sebagai segala pemberian berupa uang, benda, atau fasilitas yang memengaruhi independensi. Jadi, media relations yang sehat tidak membeli pemberitaan lewat wartawan. Kalau kamu butuh kepastian tayang, jalurnya resmi lewat bagian iklan media sebagai artikel bersponsor, yang kami bahas di bagian berikutnya.

Supaya tidak tertukar, begini perbandingan tiga istilah yang sering dipakai bergantian:

Aspek PR konvensional Media relations Digital PR
Fokus Reputasi di mata semua pemangku kepentingan Hubungan dengan wartawan dan redaksi Reputasi yang terlihat dan bisa dicari di web
Kanal utama Acara, siaran pers, media cetak, TV, radio Pitch, rilis, wawancara, konferensi pers Media online, kreator, podcast, newsletter, komunitas
Hasil yang dicari Citra dan dukungan publik Pemberitaan yang akurat dan berimbang Sebutan, tautan, dan kutipan yang bisa dilacak
Cara mengukur Survei persepsi, kliping Jumlah dan nada pemberitaan Liputan, backlink, trafik rujukan, pencarian nama brand
Umur jejak Sepanjang umur edisi atau tayangan Sepanjang umur berita Selama halaman masih online dan bisa ditemukan

Tips

Salah kaprah yang paling perlu diluruskan: menganggap digital PR adalah membeli backlink di media. Keduanya bersinggungan, tetapi tidak sama. Pembedanya sederhana: siapa yang memutuskan isi, dan apakah ada pembayaran.

  • Liputan editorial (earned). Redaksi memutuskan ceritamu layak diberitakan. Kamu tidak membayar dan tidak mengontrol isi, termasuk ada atau tidaknya tautan.
  • Kutipan narasumber (earned). Wartawan mengutip pendapat atau datamu di artikel mereka.
  • Artikel bersponsor atau advertorial (dibayar). Kamu membayar ruang di media, dan isinya disepakati bersama. Pedoman Pemberitaan Media Siber mewajibkan media siber membedakan dengan tegas antara berita dan iklan. Setiap isi berbayar wajib diberi keterangan seperti "advertorial", "iklan", "ads", atau "sponsored".
  • Konten kreator dan homeless media (bisa keduanya). Bisa dibayar lewat kerja sama, bisa juga earned kalau kreatornya memang tertarik dengan ceritamu.
Ilustrasi spektrum penempatan media dari liputan editorial, kutipan narasumber, sampai artikel bersponsor yang berlabel
Liputan editorial, kutipan narasumber, dan artikel bersponsor sama-sama tayang di media, tetapi berbeda dalam siapa yang memutuskan isi dan label apa yang wajib dipasang.

Soal tautan, sikap Google jelas. Kebijakan spam Google memasukkan pembelian link untuk memanipulasi peringkat sebagai spam link. Contoh yang disebut termasuk advertorial berbayar yang link-nya meneruskan kredit peringkat. Contoh lainnya adalah link dengan teks yang dioptimalkan di artikel, postingan tamu, atau rilis pers yang disebar ke situs lain.

Di halaman yang sama, Google menulis bahwa jual beli link adalah hal wajar dalam ekonomi web untuk iklan dan sponsor. Syaratnya, link itu diberi atribut rel="sponsored" atau rel="nofollow". Panduan atribut link Google menyebut nilai sponsored untuk iklan atau penempatan berbayar.

Konsekuensinya begini: nilai utama artikel bersponsor ada pada pembaca media itu, kredibilitas tayang di sana, dan jejak yang bisa dicari. Bukan pada janji ranking. Kami tidak menjanjikan ranking atau indeks Google dari penempatan apa pun, dan kamu sebaiknya waspada pada pihak yang menjanjikannya.

Jenis hasil Yang memutuskan isi Label Atribut link yang sesuai kebijakan Google Nilai utama
Liputan editorial Redaksi Tidak perlu Keputusan redaksi Kredibilitas pihak ketiga
Kutipan narasumber Wartawan Tidak perlu Keputusan redaksi, sering tanpa link Posisi sebagai ahli
Artikel bersponsor atau advertorial Kamu dan media Wajib (advertorial, iklan, ads, sponsored) sponsored atau nofollow Jangkauan pembaca media, jejak yang bisa dicari
Rilis dimuat redaksi tanpa bayar Redaksi Tidak perlu Keputusan redaksi Informasi resmi yang terdokumentasi
Rilis didistribusikan berbayar ke banyak media Kamu dan media Wajib (advertorial, iklan, ads, sponsored) sponsored atau nofollow, hindari anchor yang dijejali kata kunci Kepastian tayang dan jejak yang bisa dicari
Konten kreator berbayar Kamu dan kreator Ikuti aturan platform dan kesepakatan sponsored atau nofollow bila ada link Jangkauan audiens media sosial

Perhatian

Catatan

Taktik digital PR yang realistis untuk bisnis di Indonesia

Tidak semua taktik dari panduan luar negeri cocok untuk pasar lokal atau anggaran bisnis kecil. Karena inti digital PR adalah cerita yang layak disebut, taktik di bawah dimulai dari bahan cerita, bukan dari daftar media. Berikut lima taktik yang paling masuk akal, diurutkan kira-kira dari yang paling murah.

1. Data dan riset orisinal

Wartawan selalu butuh angka baru. Survei kecil ke pelanggan, data transaksi yang sudah dianonimkan, atau rangkuman dari data publik bisa menjadi cerita. Syaratnya jujur soal metode: berapa responden, kapan diambil, dan bagaimana mereka dipilih. Kami lebih percaya satu data kecil yang metodenya jelas daripada "survei" yang dibungkus judul bombastis tetapi tidak bisa ditelusuri.

2. Komentar ahli dan newsjacking

Newsjacking artinya menawarkan sudut pandang ahli saat sebuah isu sedang ramai diberitakan. Misalnya, saat ada aturan baru yang berdampak ke pelaku usaha, pemilik bisnis atau konsultan di bidang itu bisa menawarkan penjelasan dampaknya ke wartawan ekonomi. Kuncinya kecepatan dan relevansi, bukan jumlah email yang dikirim.

3. Rilis pers yang memang berita

Rilis bekerja kalau isinya memenuhi nilai berita: ada yang baru, ada dampaknya, ada angka atau orang yang bisa dikutip. Peluncuran produk kecil tanpa sudut cerita jarang dimuat secara earned. Kalau yang kamu butuhkan kepastian tayang di beberapa media sekaligus, pilihannya distribusi rilis sebagai artikel bersponsor lewat jasa press release, dengan label yang jelas.

Hati-hati dengan cara menyebarnya. Google membahas ini di blog Google Search Central (2017). Dalam kasus tertentu, artikel yang ditulis untuk dimuat di situs lain diizinkan, asalkan tujuannya memberi informasi kepada pengguna atau meningkatkan kesadaran terhadap perusahaan. Namun Google juga menyebut tanda pelanggaran bila dilakukan secara ekstrem:

  • link yang kaya kata kunci,
  • artikel yang dimuat di banyak situs berbeda,
  • penulis yang tidak paham topik yang ditulis,
  • konten yang sama atau serupa di seluruh artikel.

Intinya, jangan menyebar teks rilis yang sama persis, dengan anchor kata kunci yang sama, ke banyak situs sekaligus.

4. Kreator, KOL, dan homeless media

Dengan 57% responden Reuters Institute di Indonesia mendapat berita dari media sosial, digital PR yang hanya mengejar portal berita akan melewatkan banyak percakapan. KOL dan akun homeless media bisa membawa ceritamu ke audiens yang jarang membuka portal berita. Satu catatan: Reuters Institute sendiri menyebut sampelnya cenderung urban, jadi jangan menganggap angka itu mewakili semua daerah.

5. Meminta tautan untuk sebutan yang belum bertautan

Brand yang sudah dikenal sering disebut di artikel tanpa tautan. Cari sebutan itu lewat Google Alerts atau pencarian nama brand dengan tanda kutip. Setelah itu, minta dengan sopan agar nama brand ditautkan ke halaman yang relevan. Ini salah satu cara paling murah mendapat tautan earned. Cara lain kami bahas di artikel backlink gratis.

Contoh digital PR untuk bisnis kecil (ilustrasi)

Contoh berikut rekaan untuk menjelaskan alurnya, bukan kasus nyata, dan sengaja tanpa angka hasil. Sebuah kedai kopi kecil mencatat harga biji kopi yang ia beli dari pemasok setiap bulan selama setahun. Catatan itu dirangkum menjadi satu halaman data di situsnya, lengkap dengan metodenya: berapa pemasok, kapan dicatat, dan apa yang tidak dihitung. Saat harga kopi sedang ramai diberitakan, pemiliknya menawarkan data itu dan dirinya sebagai narasumber ke wartawan ekonomi daerah.

Kalau redaksi menilai ceritanya layak, ketiga manfaat di awal artikel ini bisa datang dari satu cerita: kedai itu disebut sebagai narasumber, ada peluang tautan ke halaman datanya, dan orang yang mencari namanya menemukan liputan pihak ketiga. Kalau tidak dimuat, halaman data itu tetap berguna untuk pelanggan dan bisa ditawarkan lagi saat ada momen berita berikutnya.

Langkah menjalankan kampanye digital PR dari nol

Banyak yang mengira digital PR adalah pekerjaan agensi besar dengan anggaran besar. Padahal kampanye kecil pun bisa berjalan, asalkan urutannya benar. Tujuh langkah ini bisa kamu jalankan sendiri atau bersama tim kecil.

  1. Tetapkan satu tujuan yang bisa diukur. Misalnya "dimuat di tiga media yang dibaca calon pembeli kami dalam satu kuartal" atau "mendapat lima tautan earned ke halaman riset". Satu kampanye, satu tujuan utama.
  2. Siapkan aset cerita. Data, narasumber yang siap diwawancara, foto atau grafik yang boleh dipakai media, dan halaman tujuan di situsmu.
  3. Susun daftar media dan wartawan target. Pilih berdasarkan rubrik dan pembaca, bukan besar kecilnya nama media.
  4. Tulis pitch pendek dan personal. Subjek email yang jelas, paragraf pertama langsung ke inti cerita, sertakan sumber data.
  5. Tindak lanjut secukupnya. Satu kali tindak lanjut beberapa hari kemudian sudah cukup. Lebih dari itu mulai terasa memaksa.
  6. Amplifikasi setelah tayang. Bagikan liputan di kanal milikmu, kirim ke pelanggan lewat newsletter, dan ucapkan terima kasih ke wartawannya.
  7. Catat dan ukur. Simpan URL, tanggal tayang, jenis hasil (earned atau dibayar), atribut link, dan trafik rujukannya.
Diagram alur tujuh langkah kampanye digital PR dari menetapkan tujuan sampai mengukur hasil
Alur kampanye digital PR: tujuan, aset cerita, daftar media, pitch, tindak lanjut, amplifikasi, lalu pencatatan dan pengukuran.

Untuk langkah ketiga, cek status media berita di halaman Data Perusahaan Pers milik Dewan Pers. Menurut laporan kinerja Dewan Pers semester pertama 2026, hingga akhir Mei 2026 tercatat 1.277 perusahaan pers berstatus Terverifikasi Faktual dan 198 berstatus Terverifikasi Administratif. Laporan yang sama menyebut sertifikat Terverifikasi Faktual hanya berlaku lima tahun. Sebanyak 300 media dikeluarkan dari daftar resmi sepanjang Desember 2025 hingga Juni 2026 karena sertifikatnya kedaluwarsa dan belum diperbarui. Jadi, status yang kamu cek tahun lalu bisa sudah berubah.

Untuk langkah keempat, perhatikan cara wartawan kini bekerja. Rangkuman Buchanan PR atas survei Muck Rack 2025 mencatat lebih dari tiga perempat jurnalis kini memakai AI generatif. Mereka memakainya untuk transkripsi, menyusun kerangka, bahkan membuat draf. Pitch yang terstruktur, dengan poin-poin yang mudah dipindai, makin penting.

Tips

Satu sikap yang kami pegang: jangan memajang artikel bersponsor di bagian "Seperti diliput di" tanpa keterangan. Pembaca yang teliti akan membuka artikelnya, melihat label advertorial, lalu mempertanyakan klaim lain di situsmu. Pisahkan saja, misalnya "Liputan media" dan "Publikasi bersponsor".

Cara mengukur hasil digital PR dan kesalahan yang sering terjadi

Kalau tujuan digital PR adalah reputasi dan jejak yang bisa dicari, ukurannya harus mencerminkan itu. Satu ukuran lama yang sebaiknya kamu tinggalkan adalah AVE (advertising value equivalent), yaitu menghitung "nilai" liputan seolah-olah itu ruang iklan. Barcelona Principles 4.0 yang disusun AMEC, asosiasi internasional untuk pengukuran dan evaluasi komunikasi, menyebut AVE sebagai ukuran yang tidak valid. AMEC meminta kontribusi komunikasi diukur dari hasil dan dampaknya.

Metrik yang layak dilacak:

Metrik Yang diukur Alat Jebakan
Liputan earned dan dibayar Hasil yang benar-benar didapat, dipisah dari yang dibeli Spreadsheet atau alat pemantau media Mencampur keduanya membuat laporan tampak lebih baik dari kenyataan
Relevansi media Kecocokan pembaca media dengan calon pembelimu Rubrik, profil pembaca, status Dewan Pers Mengejar nama besar yang pembacanya tidak relevan
Tautan dan atributnya Link ada, halaman masih hidup, atribut rel tidak berubah Cek manual atau crawler Mengecek sekali saat tayang lalu tidak pernah lagi
Trafik rujukan Kunjungan dari artikel ke situsmu Google Analytics 4 Artikel di rubrik sepi jarang mengirim klik
Pencarian nama brand Tren orang mencari namamu Google Search Console Banyak faktor lain ikut memengaruhi
Kontak ulang dari wartawan Wartawan kembali meminta komentar atau data Catatan hubungan media Sulit dijadikan angka, padahal paling menunjukkan kepercayaan

Tautan juga bisa hilang setelah tayang: artikel dihapus, dipindah, atau atributnya diubah. Karena itu, cek ulang secara berkala. Untuk penempatan Media dan Blog yang dibeli lewat Liputin, link dipantau tiap 7 hari selama 90 hari setelah order selesai. Kalau link hilang atau halaman tidak bisa dibuka pada 3 cek berturut, publisher diminta memperbaikinya dalam 7 hari, dan hasil setiap cek tampil di halaman order.

Kesalahan yang paling sering terjadi

  • Menyebar rilis yang sama persis ke banyak situs dengan anchor yang dijejali kata kunci. Ini persis pola yang disebut dalam kebijakan spam Google.
  • Menganggap artikel bersponsor sama dengan liputan, lalu melaporkannya ke atasan atau klien sebagai pemberitaan earned.
  • Mengirim pitch massal yang tidak sesuai topik, padahal 86% jurnalis dalam survei Muck Rack menyatakan akan mengabaikannya.
  • Memberi "amplop" ke wartawan. Selain melanggar Kode Etik Jurnalistik, cara ini merusak kredibilitas liputan yang kamu dapat.
  • Mengambil jalan pintas seperti jaringan PBN, yang tujuannya memanipulasi link, bukan menjangkau pembaca.
  • Mengukur keberhasilan dari jumlah link saja, tanpa melihat relevansi media dan apakah ada orang yang benar-benar membaca.

Mulai dari mana

Jadi, digital PR adalah kerja jangka panjang yang menggabungkan cerita yang layak, hubungan baik dengan media dan kreator, serta pencatatan yang jujur. Mulailah dari satu cerita, satu daftar media yang relevan, dan satu halaman tujuan yang layak ditautkan.

Kalau kamu sudah punya cerita dan butuh kepastian tayang, gabungkan upaya earned dengan penempatan berbayar yang berlabel jelas. Kamu bisa mendistribusikan rilis lewat jasa press release, atau memilih sendiri media dan blog di halaman beli backlink. Di sana, setiap listing menampilkan angka pembaca beserta sumber dan tanggal ceknya, dan label konten berbayar yang dideklarasikan media tampil sebelum kamu memesan.

Sumber

Pertanyaan yang sering diajukan

Media relations adalah kerja menjalin hubungan dengan wartawan dan redaksi supaya informasi organisasi sampai ke publik lewat pemberitaan. Digital PR lebih luas: tetap memakai media relations, tetapi juga bekerja dengan kreator, podcast, komunitas, dan riset, dengan hasil yang bisa dilacak di web berupa sebutan, tautan, dan kutipan.

Tidak. Digital PR mengejar liputan dan tautan yang diberikan pihak lain karena ceritamu layak. Membeli penempatan adalah iklan. Kebijakan spam Google memasukkan link berbayar untuk memanipulasi peringkat sebagai spam link, kecuali link itu diberi atribut sponsored atau nofollow. Artikel bersponsor tetap berguna untuk menjangkau pembaca media, asalkan diperlakukan sebagai iklan.

Bisa menjadi bagian dari rencana digital PR, tetapi statusnya iklan, bukan liputan. Pedoman Pemberitaan Media Siber mewajibkan isi berbayar diberi keterangan seperti advertorial, iklan, ads, atau sponsored. Pakai untuk kepastian tayang dan jangkauan, lalu pisahkan dari liputan earned saat kamu melaporkan hasil.

Bisa. Mulai dari satu cerita yang layak diberitakan, misalnya data dari pelanggan sendiri atau pendapat ahli tentang isu yang sedang ramai, lalu tawarkan ke sedikit wartawan yang memang meliput topik itu. Meminta tautan untuk sebutan brand yang belum bertautan juga murah dan bisa dikerjakan sendiri.

Tidak ada angka pasti. Liputan bisa muncul cepat kalau ceritamu tepat waktu, tetapi dampaknya ke reputasi dan pencarian nama brand terbentuk bertahap. Ukur per kampanye dan bandingkan antarkuartal. Tidak ada pihak yang bisa menjamin ranking atau indeks Google dari liputan atau penempatan tertentu.

Untuk media berita, cek statusnya di halaman Data Perusahaan Pers milik Dewan Pers, karena sertifikat Terverifikasi Faktual berlaku lima tahun dan bisa kedaluwarsa. Lihat juga apakah media itu memisahkan berita dan iklan dengan label yang jelas, siapa pembacanya, dan apakah rubriknya relevan dengan bisnismu.

Artikel terkait